Thursday, 8 January 2015

Sinopsis Novel Laskar Pelangi 2015 Terbaru



Sinopsis Novel Laskar Pelangi 2015 Terbaru


Sinopsis Novel Laskar Pelangi 2015 Terbaru -

Baca JUGA : Nilai Nilai Yang Terkandung pada Novel Laskar Pelangi


1.    Pengarang              : Andrea Hirata

2.    Gambar kulit          : Warna dasar  hitam  dan  merah  dengan
  gambar anak-anak   kecil   yang   sedang
  bermain ditambah dengan ilustrasi bias
  cahaya mirip pelangi.

3.    Penerbit                 : PT.  Bentang  Pustaka, Yogyakarta, cetakan ke-
  19 pada Maret 2008

4.    Tebal                     : 534 halaman

5.    Tempat kejadian     : Pulau Belitong, Bangka Belitung.

6.    Pemegang Peranan : Ikal  dan  sepuluh  orang  anggota  Laskar
  Pelangi, Bu Muslimah, Pak Harfan, dan
  Ayah Ikal.

Para pemegang peranan dapat dilukiskan sebagai berikut:
           
Ikal
Tokoh 'aku' dalam cerita ini. Ikal yang selalu menjadi peringkat kedua memiliki teman sebangku bernama Lintang, yang merupakan anak terpintar dalam Laskar Pelangi. Ia berminat pada sastra, terlihat dari kesehariannya yang senang menulis puisi. Ia menyukai A Ling, sepupu dari A Kiong, yang ditemuinya pertama kali di sebuah toko kelontong bernama Toko Sinar Harapan. Pada akhirnya hubungan mereka berdua terpaksa berakhir oleh jarak akibat kepergian A Ling ke Jakarta untuk menemani bibinya.

Lintang  
Teman sebangku Ikal yang luar biasa jenius. Ayahnya bekerja sebagai nelayan miskin yang tidak memiliki perahu dan harus menanggung kehidupan 14 jiwa anggota keluarga. Lintang telah menunjukkan minat besar untuk bersekolah semenjak hari pertama berada di sekolah. Ia selalu aktif di dalam kelas dan memiliki cita-cita sebagai ahli matematika. Sekalipun ia luar biasa pintar, pria kecil berambut merah ikal ini pernah salah membawa peralatan sekolahnya. Cita-citanya terpaksa ditinggalkan agar ia dapat bekerja untuk membiayai kebutuhan hidup keluarganya semenjak ayahnya meninggal.

Sahara  
Satu-satunya gadis dalam anggota Laskar Pelangi. Sahara adalah gadis keras kepala berpendirian kuat yang sangat patuh kepada agama. Ia adalah gadis yang ramah dan pandai, ia baik kepada siapa saja kecuali pada A Kiong yang semenjak mereka masuk sekolah sudah ia basahi dengan air dalam termosnya.
Mahar  
Pria tampan bertubuh kurus ini memiliki bakat dan minat besar pada seni. Pertama kali diketahui ketika tanpa sengaja Bu Muslimah menunjuknya untuk bernyanyi di depan kelas saat pelajaran seni suara.

A Kiong
Anak Hokian keturunan Tionghoa ini adalah pengikut sejati Mahar sejak kelas satu. Baginya Mahar adalah suhunya yang agung. Kendatipun pria kecil ini berwajah buruk rupa, ia memiliki rasa persahabatan yang tinggi dan baik hati, serta suka menolong pada siapapun kecuali Sahara. Namun, meski mereka selalu bertengkar, ternyata mereka berdua saling mencintai satu sama lain.

Syahdan
Anak nelayan yang ceria ini tak pernah menonjol. Kalau ada apa-apa dia pasti yang paling tidak diperhatikan. Misalnya ketika bermain sandiwara, Syahdan hanya kedapatan jadi tukang kipas putri dan itupun masih banyak kesalahannya. Syahdan adalah saksi cinta pertama Ikal, ia dan Ikal bertugas membeli kapur di Toko Sinar Harapan semenjak Ikal jatuh cinta pada A Ling. Syahdan ternyata memiliki cita-cita yang tidak pernah terbayang oleh Laskar Pelangi lainnya yaitu menjadi aktor. Dengan bekerja keras pada akhirnya dia menjadi aktor sungguhan meski hanya mendapatkan peran kecil seperti tuyul atau jin. Setelah bosan, ia pergi dan kursus komputer. Setelah itu ia berhasil menjadi network designer.
Kucai
Ketua kelas sepanjang generasi sekolah Laskar Pelangi. Ia menderita rabun jauh karena kurang gizi dan penglihatannya melenceng 20 derajat, sehingga jika ia menatap marah ke arah Borek, maka akan terlihat ia sedang memperhatikan Trapani. Laki-laki ini sejak kecil terlihat bisa menjadi politikus dan akhirnya diwujudkan ketika ia dewasa menjadi ketua fraksi di DPRD Belitong.

Borek
Pria besar maniak otot. Borek selalu menjaga citranya sebagai laki-laki macho. Ketika dewasa ia menjadi kuli di toko milik A Kiong dan Sahara.

Trapani
Pria tampan yang pandai dan baik hati ini sangat mencintai ibunya. Apapun yang ia lakukan harus selalu didampingi ibunya, seperti misalnya ketika mereka akan tampil sebagai band yang dikomando oleh Mahar, ia tidak mau tampil jika tak ditonton ibunya. Cowok yang bercita-cita menjadi guru ini akhirnya berakhir di rumah sakit jiwa karena ketergantungannya terhadap ibunya.

Harun
Pria yang memiliki keterbelakangan mental ini memulai sekolah dasar ketika ia berumur 15 tahun. Laki-laki jenaka ini senantiasa bercerita tentang kucingnya yang berbelang tiga dan melahirkan tiga anak yang masing-masing berbelang tiga pada tanggal tiga kepada Sahara dan senang sekali menanyakan kapan libur lebaran pada Bu Muslimah. Ia menyetor 3 buah botol kecap ketika disuruh mengumpulkan karya seni kelas enam.




Tokoh-tokoh Lain:
Bu Muslimah
Bernama lengkap N.A. Muslimah Hafsari Hamid binti K.A. Abdul Hamid. Dia adalah Ibunda Guru bagi Laskar Pelangi. Wanita lembut ini adalah pengajar pertama Laskar Pelangi dan merupakan guru yang paling berharga bagi mereka.

Pak Harfan
Nama lengkap K.A. Harfan Efendy Noor bin K.A. Fadillah Zein Noor. Kepala sekolah dari sekolah Muhammadiyah. Ia adalah orang yang sangat baik hati dan penyabar meski murid-murid awalnya takut melihatnya.

Flo
Bernama asli adalah Floriana, seorang anak tomboi yang berasal dari keluarga kaya. Dia merupakan murid pindahan dari sekolah PN yang kaya dan sekaligus tokoh terakhir yang muncul sebagai bagian dari laskar pelangi. Awal pertama kali masuk sekolah, ia sempat membuat kekacauan dengan mengambil alih tempat duduk Trapani sehingga Trapani yang malang terpaksa tergusur. Ia melakukannya dengan alasan ingin duduk di sebelah Mahar dan tak mau didebat.

A Ling
Cinta pertama Ikal yang merupakan saudara sepupu A Kiong. A Ling yang cantik dan tegas ini terpaksa berpisah dengan Ikal karena harus menemani bibinya yang tinggal sendiri.


Cerita Laskar pelangi diangkat dari kisah nyata yang dialami oleh penulisnya sendiri. Buku Laskar Pelangi menceritakan kisah masa kecil anak-anak kampung dari suatu komunitas Melayu yang sangat miskin. Anak orang-orang ‘kecil’ ini mencoba memperbaiki masa depan dengan menempuh pendidikan dasar dan menengah di sebuah lembaga pendidikan yang puritan. Bersebelahan dengan sebuah lembaga pendidikan yang dikelola dan difasilitasi begitu modern pada masanya. SD Muhammadiyah-sekolah penulis ini, tampak begitu parah jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah PN Timah (Perusahaan Negara Timah). Mereka, para native Belitung ini tersudut dalam ironi yang sangat besar karena kemiskinannya justru berada di tengah-tengah gemah ripah kekayaan PN Timah yang mengeksploitasi tanah ulayat mereka.
Kesulitan terus menerus membayangi sekolah kampung itu. Sekolah yang dibangun atas jiwa ikhlas dan kepeloporan dua orang guru, seorang kepala sekolah yang sudah tua, Bapak Harfan Efendy Noor dan ibu guru muda, Ibu Muslimah Hafsari, yang juga sangat miskin, berusaha mempertahankan semangat besar pendidikan dengan terseok-seok. Sekolah yang nyaris dibubarkan oleh pengawas sekolah Depdikbud Sumsel karena kekurangan murid itu, terselamatkan berkat seorang anak idiot yang sepanjang masa bersekolah tak pernah mendapatkan rapor. Sekolah yang dihidupi lewat uluran tangan para donatur di komunitas marjinal itu begitu miskin: gedung sekolah bobrok, ruang kelas beralas tanah, beratap bolong-bolong, berbangku seadanya, jika malam dipakai untuk menyimpan ternak, bahkan kapur tulis sekalipun terasa mahal bagi sekolah yang hanya mampu menggaji guru dan kepala sekolahnya dengan sekian kilo beras, sehingga para guru itu terpaksa menafkahi keluarganya dengan cara lain. Sang kepala sekolah mencangkul sebidang kebun dan sang ibu guru menerima jahitan.
Kendati demikian, keajaiban seakan terjadi setiap hari di sekolah yang dari jauh tampak seperti bangunan yang akan roboh. Semuanya terjadi karena sejak hari pertama kelas satu sang kepala sekolah dan sang ibu guru muda yang hanya berijazah SKP (Sekolah Kepandaian Putri) telah berhasil mengambil hati sebelas anak-anak kecil miskin itu.
Dari waktu ke waktu mereka berdua bahu membahu membesarkan hati kesebelas anak-anak marjinal tadi agar percaya diri, berani berkompetisi, agar menghargai dan menempatkan pendidikan sebagai hal yang sangat penting dalam hidup ini. Mereka mengajari kesebelas muridnya agar tegar, tekun, tak mudah menyerah, dan gagah berani menghadapi kesulitan sebesar apapun. Kedua guru itu juga merupakan guru yang ulung sehingga menghasilkan seorang murid yang sangat pintar dan mereka mampu mengasah bakat beberapa murid lainnya. Pak Harfan dan Bu Mus juga mengajarkan cinta sesama dan mereka amat menyayangi kesebelas muridnya. Kedua guru miskin itu memberi julukan kesebelas murid itu sebagai para Laskar Pelangi.
Keajaiban terjadi ketika sekolah Muhamaddiyah, dipimpin oleh salah satu laskar pelangi mampu menjuarai karnaval mengalahkan sekolah PN dan keajaiban mencapai puncaknya ketika tiga orang anak anggota laskar pelangi (Ikal, Lintang, dan Sahara) berhasil menjuarai lomba cerdas tangkas mengalahkan sekolah-sekolah PN dan sekolah-sekolah negeri. Suatu prestasi yang puluhan tahun selalu digondol sekolah-sekolah PN.
Kejadian yang paling menyedihkan melanda sekolah Muhamaddiyah ketika Lintang, siswa paling jenius anggota laskar pelangi itu harus berhenti sekolah padahal cuma tinggal satu triwulan menyelesaikan SMP. Ia harus berhenti karena ia anak laki-laki tertua yang harus menghidupi keluarga sebab ketika itu ayahnya meninggal dunia. Native Belitong kembali dilanda ironi yang besar karena seorang anak jenius harus keluar sekolah karena alasan biaya dan nafkah keluarga yang justru disekelilingnya PN Timah menjadi semakin kaya raya dengan mengeksploitasi tanah leluhurnya.
Banyak hal-hal inspiratif yang dimunculkan buku ini. Buku ini memberikan contoh dan membesarkan hati. Buku ini memperlihatkan bahwa di tangan seorang guru, kemiskinan dapat diubah menjadi kekuatan, keterbatasan bukanlah kendala untuk maju, dan pendidikan bermutu memiliki definisi dan dimensi yang sangat luas. Paling tidak Laskar Pelangi dan sekolah miskin Muhamaddiyah menunjukkan bahwa pendidikan yang hebat sama sekali tak berhubungan dengan fasilitas. Terakhir cerita Laskar Pelangi memberitahu kita bahwa bahwa guru benar-benar seorang pahlawan tanpa tanda jasa.

Hubungan Sistem Penanggalan Sasak dengan Ilmu Astronomi


Hubungan Sistem Penanggalan Sasak dengan Ilmu Astronomi

BACA JUGA  : Fiosofi yang Mendasari Adat perkawinan Bangsawan Sasak 

BACA JUGA  : Realitas Karakter Masyarakat Sasak Zaman Sekarang
  
BACA JUGA  : Hubungan Nilai Budaya Sasak dengan Pancasila sebagai Karakter Bangsa Indonesia

BACA JUGA  : Sistem Penanggalan Masyarakat Sasak Lombok '

BACA JUGA  : Hubungan Sistem Penanggalan Sasak dengan Ilmu Astronomi

BACA JUGA  : Fungsi Sistem Penanggalan Suku Sasak Lombok 


Hubungan Sistem Penanggalan Sasak dengan Ilmu Astronomi -


Tingginya tingkat akurasi penanggalan Sasak menandakan bahwa masyarakat Sasak sejak dulu sudah menguasai pola cuaca dan iklim dengan berdasarkan pada kebiasaan, gejala alam, dan ilmu astronomi.Pengetahuan tentang pola cuaca dan iklim tersebut digunakan dalam berbagai aktivitas seperti bertani, berlayar, dan kegiatan lainnya.
  Dalam kegiatan pertanian, masyarakat Sasak yang berprofesi sebagai petani mengamati kapan tumbuk terjadi.Tumbuk ini digunakan sebagai penanda agar petani memulai persiapan untuk menanam padi.Biasanya tumbuk terjadi pada bulan Oktober saat matahari berada pada kulminasi atas di lintang letak pulau Lombok, yaitu sekitar 8°30′ Lintang Selatan. Pada saat itu matahari bergerak dari lintang 0° di khatulistiwa ke lintang 23½° dari tanggal 23 September sampai tanggal 22 Desember yang jumlahnya 90 hari. Dari data tersebut, didapatkan matahari bergerak 23½°/90 hari=0,26° per hari di ekliptika. Jika matahari bergerak 0,26° per hari, maka matahari akan tepat berada di lintang pulau Lombok 8°30′/ 0,26°=32,6 hari setelah tanggal 23 September yang bertepatan dengan tanggal 24 Oktober.   
Waktu padi rowot berbunga bertepatan dengan terbitnya bintang Rowot. Bintang Rowot ini merupakan gugusan bintang yang berada pada rasi bintang Taurus dengan deklinasi +14° 52′ 20″ dan asensiorekta 04j 42m 08d. Gugus bintang ini dikenal dengan nama gugus bintang Pleiades. Gugus bintang ini juga digunakan masyarakat Jawa untuk menandai kegiatan pertanian.Gugus bintang ini tidak terlihat selama beberapa hari yaitu sekitar April-Mei disebabkan oleh posisi bumi saat revolusi.
Bau nyale atau ritual menangkap nyale dilaksanakan pada tanggal 20 bulan Sepulu.Tanggal 20 yang dimaksud bukanlah tanggal 20 bulan Sasak melainkan tanggal 20 bulan Hijriyah. Apabila pada tanggal 20 nyale tidak banyak yang keluar, maka orang Sasak akan mengatakan penanggalan pada kalender salah karena nyale tidak mungkin muncul pada tanggal 21. Hal ini ternyata bersesuaian dengan peredaran bulan karena pada tanggal 21 terjadi pasang perbani sehingga nyale tidak keluar.


Implementasi Sistem Penanggalan Sasak dalam Kehidupan Sehari-hari


Implementasi Sistem Penanggalan Sasak dalam Kehidupan Sehari-hari
BACA JUGA  : Fiosofi yang Mendasari Adat perkawinan Bangsawan Sasak 

BACA JUGA  : Realitas Karakter Masyarakat Sasak Zaman Sekarang
  
BACA JUGA  : Hubungan Nilai Budaya Sasak dengan Pancasila sebagai Karakter Bangsa Indonesia

BACA JUGA  : Sistem Penanggalan Masyarakat Sasak Lombok '

BACA JUGA  : Hubungan Sistem Penanggalan Sasak dengan Ilmu Astronomi

BACA JUGA  : Fungsi Sistem Penanggalan Suku Sasak Lombok 

Implementasi Sistem Penanggalan Sasak dalam Kehidupan Sehari-hari - Penentuan tanggal satu bulan Saqdengan menggunakan Bintang Rowot, hanya digunakan sebagai patokan (Sasak: penandoq). Karena dengan mulai terbitnya bintang ini, berbagai kegiatan pertanian dan pelayaran, penangkapan nyale, dan sebagainya dapat direncanakan.

1. Kegiatan Pertanian
a.    Pada bulan Empat (biasanya bertepatan pada bulan Agustus)
Pada saat ini, para petani mulai nyenyaweq, yaitu memberi tanda berupa potongan pelepah daun kelapa yang ditancapkan pada pemurah, yaitu petakan sawah pertama masuknya air. Lalu diikuti dengan kegiatan memon, yaitu menanam ranting (daun) lego pada pintu air (Sasak: penamaq aiq) pada tanggal 6,16, dan 26. Dalam bulan ini juga orang mulai menanam pisang, dan umbi-umbian tertentu seperti jahe, kunyit, gadung, dan sebagainya.
b.   Dalam bulan Enem (biasanya bertepatan pada bulan Oktober)
Dalam bulan ini, para pengamat perbintangan menantikan saat matahari tumbuk, yaitu pada saat posisi matahari tepat berada di atas Pulau Lombok sehingga tidak terdapat bayangan sama sekali berkisar antara tanggal 6, 16, dan 26.
Jika tumbuk terjadi pada tanggal 6, berarti hujan awal tahun akan banyak, namun kurang di akhir tahun. Demikian pula tentang nyale.Nyale Tunggak (pengambilan nyale pada awal waktu) yang terjadi pada bulan Sepulu sekitar Februari akan banyak, tetapi Nyale Poto (pengambilan nyale di akhir waktu) yang terjadi pada bulan Solas sekitar Maret kurang.
Jika tumbuk terjadi tanggal 16, berarti curah hujan merata, baik di awal tahun maupun di akhir tahun. Begitu pula jumlahnyale yang muncul, Nyale Tunggak dan Nyale Poto merata (sama).
Tetapi, jika tumbuk terjadi tanggal 26, berarti hujan awal tahun kurang, di akhir tahun deras.Nyale Tunggaksedikit, sementara itu Nyale Poto banyak.Menurut beberapa orang para sesepuh Sasak, hal itu benar-benar terjadi.Dengan demikian para petani dapat mengatur kegiatan pertaniannya.Kapan sebaiknya mulai menurunkan benih, ngampar, mengolah sawah, menanam padi, dan sebagainya.
c.    Dalam bulan Pituq (biasanya bertepatan pada bulan November)
              Pada saat ini, para petani percaya untuk mulai mengolah sawahnya masing-masing.
d. Dalam bulan Baluq (biasanya bertepatan jatuh pada bulan Desember)
             Bulan ini sudah mulai dilakukannya penanaman padi (Sasak: lowong).
        2.) Kegiatan Nelayan
Untuk merencanakan kapan saat menangkap ikan, karena sudah bisa diperkirakan banyak sedikitnya jenis ikan tertentu pada suatu waktu dan tempat.
      3.) Kegiatan Bau Nyale
Untuk menentukan saat tibanya bulan Sepulu (umumnya bertepatan pada bulan Februari), karena pada bulan Sepulu masyarakat memperkirakan sebagai waktu keluarnya nyale.
Masyarakat Sasak percaya, keluarnya nyale dua kali dalam setahun, yakni tanggal 20 bulan Sepulu, keluarnya nyale tunggak (awal) yang bertepatan pada bulan Februari. Dan pada tanggal Due pulu bulan Solas, keluarnya nyale poto (akhir) yang bertepatan dengan bulan Maret.
Ada tiga kemungkinan nyale pada dua bulan tersebut.Kemungkinan pertama, yaitu pada awal bulan, kemungkinan kedua pada pertengahan bulan, dan kemungkinan ketiga pada akhir bulan.Tergantung pada saat tumbuknya matahari di bulan Enem (umumnya jatuh pada bulan Oktober).Tumbuk atau tumpeknya matahari kemungkinan terjadi pada tanggal 6,16 dan 26 bulan Enem. Jika tumbuk pada tanggal 6, maka nyale keluar pada awal bulan Februari.Bila tumbuk tanggal 16, maka keluarnya nyale pertengahan bulan Februari. Kemudian, bila tumbuk tanggal 26, maka nyale akan keluar pada akhir bulan Februari.
Ritual Bau Nyale terjadi pada tanggal 20 bulan Hijriyah yang bertepatan dengan bulan Sepulu.Tanggal 20 ini juga bertepatan dengan bulan Februari. Ritual ini terjadi pada bulan Hijriyah yang sama selama 3 tahun. 
Tapi yang dijadikan patokan orang Sasak adalah tanggal 20 bulan Hijriyah yang bertepatan dengan bulan Februari itu. Jika bulan Hijriah yang mengandung tanggal 20 pada bulan Februari itu bulan Safar, maka tanggal 20 Safar itu itulah yang dicocokkan dengan tanggal berapa dan hari apa di bulan Februari.
Bukan hanya itu saja, sistem penanggalan Sasak juga dijadikan sebagai patokan untuk penentu hari baik dan hari buruk dam melakukan segala kegiatan.Misalnya, pada hari Selasa, masyarakat percaya bahwa tidak boleh menebang pohon.Sistem penanggalan Sasak ini juga dijadikan patokan untuk melakukan prosesi merariq (upacara perkawinan).Namun, nyatanya saat ini tidak semua masyarakat Sasak yang masih tetap mempertahankan budaya setempat.Misalnya, untuk upacara merariq pada saat ini bisa dilakukan kapan saja.Padahal pada zaman dahulu, nenek moyang Sasak biasanya melakukan prosesi merariq pada bulan Due Olas yang bertepatan pada bulan April.Pada saat itu juga merupakan masa panen.Jadi para orang tua tidak perlu lelah untuk terus memikirkan biaya perkawinan anaknya, tidak seperti saat ini yang tidak teratur.


Fungsi Sistem Penanggalan Suku Sasak Lombok

Fungsi Sistem Penanggalan Suku Sasak Lombok

BACA JUGA  : Fiosofi yang Mendasari Adat perkawinan Bangsawan Sasak 

BACA JUGA  : Realitas Karakter Masyarakat Sasak Zaman Sekarang
  
BACA JUGA  : Hubungan Nilai Budaya Sasak dengan Pancasila sebagai Karakter Bangsa Indonesia

BACA JUGA  : Sistem Penanggalan Masyarakat Sasak Lombok '

BACA JUGA  : Hubungan Sistem Penanggalan Sasak dengan Ilmu Astronomi

BACA JUGA  : Fungsi Sistem Penanggalan Suku Sasak Lombok 

Fungsi Sistem Penanggalan Suku Sasak Lombok - Masyarakat Sasak menggunakan sistem penanggalan Sasak sebagai suatu kebiasaan untuk dijadikan acuan dalam melakukan berbagai kegiatan.Secara garis besar fungsi penanggalan Sasak adalah acuan masyarakat Sasak untuk keperluan pertanian, kegiatan nelayan, penentuan hari baik dan hari buruk, penentuan tanggal Bau Nyaledan kegiatan-kegiatan ritual lainnya. Konsep ini sesuai dengan hasil wawancara dengan H. Muhsyifuddin, BA (wawancara tanggal 12 Juni 2011) Dalam kegiatan pertanian, masyarakat Sasak menggunakan tanda-tanda dalam setiap bulan untuk menentukan waktu menanam padi yang tepat. Selain menanam padi, pada bulan-bulan tertentu, masyarakat Sasak juga menanam palawija dan tanaman lainnya seperti pada bulan Empat yang bertepatan dengan bulan Agustus.Berikut merupakan tanda-tanda dalam bulan Sasak yang digunakan sebagai acuan dalam kegiatan bertani.       

1.      Bulan Saq, biasanya bertepatan pada bulan Mei.
Ditandai dengan munculnya bintang rowot yang diiringi dengan padi rowot berbunga. Padi rowot yang berbunga menandakan sebentar lagi akan panen. Selain itu, adanya randu (pohon kapuk) yang buahnya berwarna putih.
2.      Bulan Due, yang umumnya bertepatan pada bulan Juni
Ditandai dengan pohon asam yang mengering dan cuaca dingin.Bulan ini biasa disebut Teleh Kembang Komak (tanaman komak berbunga).Karena pada bulan ini komak di sawah mulai berbunga dan berkembang.
3.      Bulan Telu, biasanya bertepatan pada bulah Juli
Ditandai dengan keadaan cuaca yang masih dingin.Masyarakat Sasak percaya cuaca dingin ini disebabkan karena angin membawa hawa dari danau segara anak.
4.      Bulan Empat, biasanya bertepatan pada bulan Agustus.
Pada saat ini ditandai dengan adanya rangah (kapuk yang mulai berwarna coklat)
5.      Bulan Lime, yang biasanya jatuh pada bulan September.
Saat ini dikenal dengan Taeq Aiq Kayuq,yaitu merupakan puncak musim kemarau. Meskipun cuaca kemarau tetapi  tanah sudah mulai menyerap air sehingga beberapa tanaman tertentu dapat tumbuh, seperti kunyit, jahe, uwi,dan sebagainya.
6.      Bulan Enem, biasanya bertepatan dengan bulan Oktober.
Ditandai dengan terjadinya tumbuk yang dipercaya sebagai penanda bahwa sebentar lagi musim hujan akan datang. Oleh karena itu, para petani khususnya di wilayah Lombok bagian utara mulai melakukan persiapan menanam padi.Selain itu, pada bulan ini gadung mulai tumbuh.
7.      Bulan Pituq, biasanya bertepatan jatuh pada bulan November.
Pada bulan ini, para petani mulai melakukan pembibitan padi untuk persiapan penanaman pada bulan selanjutnya atau yang lebih dikenal dengan Ngampar.
8.      Bulan Baluq, biasanya bertepatan jatuh pada bulan Desember.
Pada bulan ini para petani mulai menanam padi yang telah dilakukan pembibitan pada bulan Pituq.
9.      Bulan Siwaq, yang pada umumnya bertepatan jatuh pada bulan Januari.
Pada bulan ini para petani mulai Berabuk (memupuk tanaman padi).Guna menjaga kesuburan padi para petani tersebut.
10.  Bulan Sepulu, biasanya bertepatan pada bulan Februari
Pada bulan ini para petani membersihkan gulma yang mengganggu tanaman padi.Selain itu, pada bulan ini juga terdapat kegiatan adat yang dinanti-nanti yaitu Upacara Bau Nyale yang jatuh pada tanggal 20 (dalam bulan Hijriyah) yang bertepatan dengan bulan Sepulu ini. Hal ini merupakan kegiatan yang dilakukan masyarakat Sasak, khusunya yang berada di sekitar Pantai Kaliantan (Lombok Selatan) untuk mengisi kekosongan kegiatan yang dilakukan sementara menunggu padi yang akan memasuki masa panen.
11.  Bulan  Solas, biasanya bertepatan pada bulan Maret.
Pada bulan ini para petani melakukan perawatan terhadap padi mereka dengan melakukan penyemprotan untuk menghilangkan hama. Penyemprotan ini dilakukan dengan cara membakar sekam. Adapun masyarakat Sasak biasa menamakannya dengan istilah Nyempru.
12.  Bulan Due Olas, biasanya bertepatan pada bulan April.
Petani mulai memanen padinya.Biasanya pada bulan ini banyak masyarakat Sasak yang merariq (menikah).Karena segala kebutuhan untuk saat ini begitu banyak tersedia.Tidak hanya itu, pada saat ini biasanya banyak ditemukan beragam permainan, seperti gasing,kicir-kicir, dan lain-lain.

Sistem Penanggalan Masyarakat Sasak Lombok


 
Sistem Penanggalan Masyarakat Sasak Lombok

BACA JUGA  : Fiosofi yang Mendasari Adat perkawinan Bangsawan Sasak 

BACA JUGA  : Realitas Karakter Masyarakat Sasak Zaman Sekarang
  
BACA JUGA  : Hubungan Nilai Budaya Sasak dengan Pancasila sebagai Karakter Bangsa Indonesia

BACA JUGA  : Sistem Penanggalan Masyarakat Sasak Lombok '

BACA JUGA  : Hubungan Sistem Penanggalan Sasak dengan Ilmu Astronomi

BACA JUGA  : Fungsi Sistem Penanggalan Suku Sasak Lombok 

Sistem Penanggalan Masyarakat Sasak Lombok - Sistem penanggalan Sasak merupakan salah satu peninggalan dari kebudayaan masyarakat Sasak di masa lalu.Penanggalan ini hanya mempunyai perhitungan bulan tanpa ada rincian tanggal dari setiap bulan tersebut.Meskipun demikian, terdapat tiga peristiwa penting yang dapat ditentukan secara jelas yakni tumbuk, terbitnya bintang rowot, dan bau nyale.Uniknya, penanggalan ini didasarkan pada dua penanggalan sekaligus yaitu, penanggalan Masehi dan penanggalan Hijriyah. Jumlah hari dalam setahun pada penanggalan Sasak sama dengan jumlah hari dalam setahun pada penanggalan Masehi. Sedangkan jumlah hari dalam sebulan mengikuti jumlah hari pada penanggalan Hijriyah.

Penanggalan Sasak berpedoman pada sebuah gugus bintang yang disebut bintang rowot.Disebut demikian karena gugus bintang ini muncul bersamaan dengan waktu padi rowot berbunga.Hal ini sesuai dengan pendapat Amaq Radi (wawancara tanggal 30 Mei 2011)Padi rowot merupakan padi lokal yang berumur sangat lama yaitu mencapai 5 bulan. Oleh karena itu, banyak masyarakat Sasak yang tidak menanamnya secara khusus pada lahan pertanian.Akan tetapi, padi ini ditanam di pinggir lahan mereka atau dekat pematang sawah.Penanamannya hanya sebatas untuk menjadi penanda terhadap terbitnya bintang rowot ketika padi ini berbunga.Terbitnya bintang ini dijadikan patokan dalam penentuan tanggal satu bulan Saq (bulan ke satu dalam penanggalanSasak).
Seperti penanggalan Masehi dan penanggalan Hijriyah, penanggalan Sasak juga memiliki 12 bulan.Namun, ada selang beberapa hari antara bulan ke-12 dan bulan ke-1 pada saat pergantian tahun. Beberapa masyarakat Sasak menyebutnya bulan Teluolas (tiga belas). Hal ini disebabkan oleh bintang rowot yang ngarem atau tilem (tidak muncul atau tenggelam). Sebutan untuk bulan-bulan dalam sistem penanggalan Sasak menggunakan angka dalam bahasa Sasak yaitu,
1.      Bulan Saq (satu),
2.      Bulan Due (dua),
3.      Bulan Telu (tiga),
4.      Bulan Empat (Empat),
5.      Bulan Lime (lima),
6.      Bulan Enem (enam),
7.      Bulan Pituq (tujuh),
8.      Bulan Baluq (delapan),
9.      BulanSiwaq (sembilan),
10.  Bulan Sepulu (sepuluh),
11.  Bulan Solas (sebelas), dan
12.  Bulan Due Olas (dua belas).
Untuk mengetahui bintang Rowot ini sudah terbit atau belum, masyarakat pada umumnya mengamati pada waktu Isya pada posisi timur laut atau pada pagi hari sekitar pukul 04.00 di sebelah barat laut.Bintang rowot selalu berdampingan dengan bintang waluku (bintang tenggala), tetapi lebih ke utara di samping kanan. Apabila bintang rowot sudah mulai muncul, bintang tenggala tenggelam (Sasak: ngarem) selama satu bulan.
Penanggalan Sasak tidak menggunakan hisabiyah atau perhitungan akan tetapi dengan cara rukyah, yaitu dengan mengamati fase-fase bulan untuk menentukan tanggal pada bulan Hijriyah yang bersangkutan. Tanggal pada bulan Hijriyah ini penting untuk diketahui karena dengan mengetahuinya, masyarakat Sasak dapat memprediksi keadaan cuaca pada tahun tersebut. Selain itu, tanggal pada bulan Hijriyah yang bertepatan dengan saat bintang rowot muncul yaitu tanggal satu bulan Saqakan mempengaruhi awal bulan Sasak selanjutnya. Misalnya, awal bulan Saq jatuh pada tanggal 6 Rabi’ul Awal maka awal bulan Due  akan jatuh pada tanggal 6 Rabi’ul Akhir.
Peristiwa penting lain yang dijadikan acuan dalam penanggalan Sasak yaitu tumbuk atau tumpek. Tumbuk atau tumpek ini terjadi pada bulan Oktober yang biasanya bertepatan dengan tanggal 6, 16, atau 26 bulan Hijriyah.Masyarakat Sasak memiliki kepercayaan dalam menafsirkan tanggal-tanggal tersebut. Apabila tumbuk jatuh pada tanggal 6, hujan akan lebat di awal. Jika tumpek jatuh pada tanggal 16, hujan akan turun dengan intensitas yang sama. Sedangkan apabila jatuh pada tanggal 26, hujan akan lebat di akhir.